Minggu, 26 September 2010

cerita romantis

duFiX – - aLL aBouT fiCtiOnS

aLi rEzA
Tahun-Tahun yang Hilang

tinggalkan komentar »

i
2 Votes

Quantcast

Oleh Ali Reza

Tampaknya kedatangan Siti tadi malam mengejutkan Adi mengingat Adi tidak pernah merindukan pergi ke kampung halaman ibunya sejak tujuh tahun lalu. Disamping kesibukannya, Siti-lah alasan dia tidak mengunjungi Solo. Siti datang bersama nenek dan putranya menjelang subuh, membangunkan seisi rumah kecuali ia yang hanya mendengar percakapan dalam bahasa Jawa dari dalam kamarnya. Satu pertanyaan dalam bahasa Indonesia menanyakan dirinya datang dari ucapan Siti. “Sekarang Adi kuliah dimana?”Mereka tumbuh bersama selama sepuluh tahun di Solo dengan Siti tiga tahun lebih tua darinya. Kedua orang tua Siti meninggal karena kecelakaan di usianya yang keenam, dan sejak saat itu neneknya yang menjadi pengasuhnya. Siti memanggil nenek dengan sebutan ibu. Di usia dua belas tahun ia harus berpisah dengan Adi yang pindah ke Jakarta. Siti menikah di usia enam belas tahun dengan kenalan neneknya karena merasa kehadiran suami baginya akan sangat membantu keuangan keluarga. Tapi Adi tidak datang di pernikahannya, tidak juga melihat anaknya lahir.

Siti cerai setahun lalu, beritanya mengagetkan keluarga buleknya di Jakarta. Hari itu dan hari-hari Siti berada di rumah tidak ada yang membicarakan tentang perceraian itu. Keluarga menganggap sudah melupakannya.

Ada perasaan canggung diantara mereka di minggu pagi. Seperti Siti, Adi tidak tahu cara memulai komunikasi. Apakah dengan mengenang masa lalu ketika Siti mengajarinya matematika dulu atau sekedar basa basi menanyakan keadaan. Tapi Adi memulainya dengan tidak sempurna.

“Siapa namanya, mbak?”

“Alif”

“Berapa usianya?”

“Tiga tahun”

Adi mempunyai kegiatan melimpah di hari minggu jika tidak ada relasi atau kelurga yang datang. Ibu dan ayahnya menemani sang nenek sedangkan adiknya masih terlalu kecil untuk bersama Siti. Pada sarapan pagi ibunya berpesan padanya untuk mengajak Siti dan anaknya keliling stadion dekat rumah.

“Ramai di sana” ibunya berkata pada Siti meski lebih berpesan pada Adi yang berdiri tidak jauh dari situ. “Banyak tempat main. Alif pasti suka.”

Siti berpaling padanya, mata dan senyumnya menyiratkan dia ingin sekali jalan-jalan bersama sepupunya seperti tahun-tahun dulu di Solo. Adi tidak bisa mengelak tanpa alasan yang tepat, lagipula ia tidak tahu apa yang harus dilakukan jika suatu kali dia harus menggendong Alif.

Adi mengganti pakaiannya dengan kaos putih polos dan memakai topi warna merah. Ibu dan neneknya melihat mereka dari belakang ketika mereka mulai meninggalkan rumah, lalu sama-sama membicarakan mengapa Adi tidak lama datang ke Solo. “Mungkin kebersamaan mereka bisa menggantikan tahun-tahun yang hilang” pikir ibunya.

Siti memakai pakaian bermotif bunga-bunga dan terlihat seperti penampilan perempuan-perempuan sepuluh tahun lalu. Itu seperti menjadi masalah bagi Adi yang selama ini bergaul dengan teman-teman kampusnya yang modis. Tapi ia mencoba mengesampingkan masalah itu dan fokus pada kedekatannya kembali dengan sepupunya.

Di perjalanan Siti bicara tentang alasan perceraiannya. Ia bilang suaminya tidak menafkahinya beberapa bulan dan selingkuh dengan teman kerjanya. Terlalu menyakitkan, katanya. Di tengah-tengah mereka, Alif sibuk dengan kuenya yang baru saja di beli, sisa-sisa kue yang menempel di mulutnya membuat mereka berhenti untuk membersihkannya. Siti sama sekali tidak berubah, begitu Adi menilai Siti, selalu terlihat lebih dewasa dari penampilannya dan bertanggung jawab. Sifat itulah yang membuat Adi sangat mencintainya sepuluh tahun lalu.

Jarak stadion tidak telalu jauh, keramaiannya sudah nampak dari jalan menuju ke sana; Orang-orang jogging dan bersepeda, para pedagang yang kesiangan dan kemacetan menjelang pintu masuk. Adi menggandeng tangan Alif, sesekali ia menatapnya dengan rasa kasihan. Tubuh anak itu begitu kecil, katanya dalam hati. Siti tertinggal di belakang karena asyik melihat baju-baju yang digantung.

Matahari mulai meninggi seiring datangnya terik. Pohon-pohon yang menaungi jalan begitu rindang dan teduh sedangkan satu-satunya masalah adalah asap knalpot dan suara nyaring sepeda motor. Siti menyusulnya dan membetulkan topi anaknya yang hampir lepas.

“Untungnya Alif gak rewel dan selalu nurut” Siti menjelaskan. Pasti sulit baginya membesarkan anak tanpa suami. Tapi keraguan Adi terjawab dengan jawaban-jawaban Siti yang tidak berisi keluhan.

Sesuatu yang pernah dibicarakan Siti ketika masih kecil adalah cita-citanya menjadi seorang dosen. Adi bahkan tidak tahu apa itu dosen kala itu. Di tahun-tahun itu Siti menceritakan dengan detail impiannya menjadi mahasiswa di UI. Meski impiannya itu kini menjadi milik Adi tapi ia merasa senang karena bisa banyak bertanya tentang UI dan segala sesuatu yang dipelajari Adi.

“Kita jalan ke sana” kata Adi, menunjuk pada belokan tempat ramai penjual makanan

Siti menggendong Alif. Alif terlihat senang berada diantara wahana dan ingin menaikinya. Siti membelikannya sebuah balon berwarna merah muda berbentuk gajah.

Mereka berjalan memutari stadion yang padat dan menepi saat menemukan tukang es krim. Adi membelikan es krim untuk mereka. Alif sangat menikmati es krimnnya, balonnya masih dipegang di tangan kirinya. Di setengah putaran, jalan semakin padat oleh mereka yang ingin melihat-lihat dan belanja. Adi memutuskan agar mereka berputar arah dan kembali ke lapangan parkir. Di sana mereka bisa duduk-duduk sambil melihat keramaian.

Tiba-tiba Alif menjatuhkan es krimnya dan mengotori pakaian ibunya. Siti hanya tersenyum, dia tidak pernah marah pada anaknya. Sebagai gantinya ia memberikan es krimnya pada Alif. Ia meminta Adi untuk menggendongnya sementara dia membersihkan pakaiannya. Adi menerimanya dengan sigap dan menggendongnya di sisi sebelah kanan. Alif memiliki mata yang mirip dengan Siti, ia juga tidak banyak bicara.

Tahun-tahun yang hilang seakan terbayar hari itu, jalan bersama sepupunya tidak sekikuk yang ia bayangkan. Tidak ada lagi perasaan ingin menjauh ataupun cinta yang tersisa. Siti yang berada di sampingnya terpaksa lebih mendekatkan diri karena kepadatan orang-orang di sana, tangannya sesekali memegang tangan Adi. Sedangkan Adi, di mata perempuan itu, tumbuh sebagai pemuda yang cerdas, lebih cerdas dari dirinya yang dulu pernah mengajarinya matematika. Siti gembira melihatnya sudah mengenal Alif meski ada harapan kecil Adi akan menjadi ayah anaknya suatu saat nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar